Campalagian

Sedikit bernostalgia, bercerita tentang humaniora kampung Mandar, Campalagian, Sulawesi Barat. Daerah kecil yang mempunyai banyak hal-hal besar yang mungkin bisa, pantas untuk saya ceiritakan. Ditanah tersebut Aku lahir dan besar. Lita’mandar, Tanah Mandar, Campalagian.

Campalagian adalah nama sebuah kecamatan. Mempunyai 14 desa; Laliko, Lapeo, Kenje, Suruang, Pappang, Bonde, Parappe, Panyampa, Lemo, Katumbangan, Lampoko, Ongko, Sumarrang, dan Botto. Bisa dikata semua desa ini merupakan daerah pinggiran pantai, kecuali Laliko dan Suruang, letaknya sedikit agak menanjak ke peguungan. Tapi, itupun pengecualian yang bukan jauh dari pinggiran pantai, karena jaraknya bisa ditempuh dengan sangat mudah.

Kota pesantren dengan ciri khas kitab kuning memberikan warna tersendiri untuk daerah ini. Tak hayal kalau daerah Campalagian bermukim banyak penduduk luar Daerah yang datang menuntut ilmu Agama. Pengajian kitab ini layaknya sebuah intan permata yang nampak berkilau disinari cahaya matahari. Indah menerangi sekitarnya. Menjadi maskot tersendiri bagi Kecamatan Campalagian. Kenbanggaan masyarakat Mandar.

Penjual ikan yang pandai baca kitab kuning? Tukang kayu yang faham dengan fasih membedakan antara fiil, fail san maful? Tukang batu yang mengerti dan mampu menjelaskan isi dari tafsir berbahasa arab? Atau, seorang anak kecil menghafal luar kepala timbangan sharaf yang mempunyai perubahan sampai beribu ribu kali, itu semuanya bukanlah hal yang tabu di Daerah ini. Bahkan Panette, (tukan tenung sarung mandar) berdebat soal kedudukan i,rab sebuah kalimat Arab Sudah biasa dan bukan menjadi sesuatu yang jauh dari hal yang impossible di Daerah ini. Hebat dan benar-benar unik.

Dihitung dari kuantitas penduduk, mungkin jumlah ini terlalu minim dibandingkan banyaknya pondok Pesantren yang ada dikecamatan ini. penulis tidak melebihkan, hampir dikata, setiap Desa punya Pesantren tersendiri, atau paling tidak setiap mesjid punya pengajian kitab kuning yang menjadi ciri khas dari pesantren-pesantren di Indonesia. Tak heran nama “Kota Pesantren” melekat di Kecamatan ini.

Kewajiban mampu membaca al Quran adalah sebuah tuntunan yang mesti bagi orang islam. Mengajarkan kepada generasi merupakan kewajiban setiap orang tua. Campalagian punya adat yang unik dalam hal prosesi apresiasi anak yang tamat mengaji. Yaitu adat sayyang pattu’du. Pagelaran kuda menari untuk anak yang tamat mengaji, dan hanya dapat disandangkan bagi anak-anak desa yang tammat dan fasih baca Al-quran plus menammati kitab wajib setelahnya yaitu Jurumiyah (kitab nahw; tatabahasa, kaidah dasar bahasa arab) yang menjadi bapak dari bahasa arab, serta menghafal Sharaf (timbangan kata bahasa arab) selaku induk sari bahasa arab.

Di Campalagian, anak seperti itu bisa naik sayyang pattuddu (kuda menari). Mejadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua jika anaknya bisa menjadi penunggang kuda tersebut. Sekedar tambahan, kuda menari ini pernah mendapat penghargaan dari President SBY….

Usenga usalili, kangen nan rindu terhadapmu. Masa kecil yang sangat memggelikan, membuat semunya terasa indah untuk dikenang. Ingin kuselalu menjadi kecil, biar aku tetap bisa berkeliling menikmati auramu wahai tumpah darahku.

Kuda menari  ditunggangi seorang dua dara mandar yang cantik nan jelita. Totamma (orang tamat mengaji) dengan pakaian haji (ala mandar tentunya) dan Pessawe (pendamping totamma) yang menggunakan pakaian baju pokko dipadukan lipa’sabbe to mandar (sarung sutra mandar).

Menyaksikan pagelaran ini memberika sebuah ketakjuban yang takterkira. Perpaduan nilai Religi serta adat mandar yang begitu fantastik. sarat akan makna, hebat dan takkan ditemui dibelahan Dunia manapun. *lebay.com.

Acara Totamma adalah Adat istiadat hanya ada di kampung Madar. Hal ini hanya terjadi sekali setahun. yaitu saat peringatan Maulid Nabi besar Muhammad s.a.w. Rutinitas tahunan ini sengaja diadakan spektakuler. Masyarakat Mandar umumnya merencnakan jauh sebelumnya agar supaya acara ini bisa sukses. Tiap kecamatan, atau Desa biasanya mengadakannya sendiri-sendiri. Gengsipun dipertaruhkan. Banyaknya Totamma menandakan banyaknya anak yang tamat mengaji pada tahun tersebut, di Kecamatan dan Desa tersebut. Pengunjungpun tak kalah ramainya.

Salah satu yang menarik dari pagelaran ini adalah Parrabana dan Pakkalinda’da. Kumpulan pemain rebana dan Penyair Mandar. Mengiringi To tamma, melantungkan lantunan irama rebana dan syair syairnya disepanjang prosesi. Dengan iringan rebana dan lantunan syair , membuat kuda seakan larut kedalam tariannya. Suasana mistik.

Berikut contoh kutipan syair Mandar;

Nauwwai tia bolonge…
Mua’ mattoe’o pandeng
Pakaramboi dzai’
Diang manini
Mappetondo dzai’i

Jika engkau menanam nenas
Tempatkanlah diketinggian
Tanti ada orang lain
Yang mengantung lebih tinggi lagi

Campalagian tidak pernah ketinggalan dalam acara ini. Salah satu adat yang aku rindukan. Kampung halaman yang takkan kulupakan. Tumpah darah yang semoga menjadi pijakan terakhirku dalam mengarungi hidup ini. Mengenangmu, membuat spirit baru dalam perjuanganku. Karna engkau adalah bagian penting dari inspirasi cita dan harapanku. Terima kasih atas mu. Doakan aku semoga bisa membuatmu bangga, karena aku telah teramat bangga terhadapmu….

  1. Ahmad said:

    apa tonganni leluare’….. meski sy bukan orang campalagian tp sy selaku orang mandar turut memberi jempol pada anda
    @Ahmad Tho-Palece

  2. muhammad firman akbar said:

    Bapak sy asli orang desa parappe dgn ibu sy orang banggae majene,Campalagian kurun waktu antara 1985-1993( walaupun sy tinggal di majene)adalah penggalan manis masa kecilku yg indah.Desa Parappe sebelum dilanda banjir yang hebat di tahun 1990-an awal adalah desa yg sgt indah dengan pemandangan luar biasa, dimana sy sering main di kali dekat rumah kakek melihat bendi (dokar) lewat dari pasar mau ke ponyampa atau sebaliknya..kakekku yang bernama Abbas atau ampo issang(yg biasa kupanggil kanne’ ampo)adalah seorang tukang kayu yang sangat terampil hingga pada masa itu mulai rumah kakek sampai mainan mobil-mobilanku semua dibuat sendiri oleh kakek dengan menggunakan kayu yg kuat. mobil-mobilanku bukan sembarang mobil karena semua dibuat dengan sangat detil dengan model mobil yg sedang trend pada masa itu dan satu lagi karena terbuat dari kayu dengan ukuran besar maka saya bisa naik keatas mobil tersebut (sayang sy tidak ada fotonya karena pada saat itu masih kecil jd belum sadar apa arti sebuah gambar pada saat itu dimasa depan) walaupun sekarang tak ada lagi yang tersisa..kadang sy berpikir apa jadinya kalau kakek sy bisa sekolah tinggi ke universitas mungkin dia akan jadi insinyur yg hebat..walaupun dia sudah wafat 19 tahun yang lalu tp kebanggaanku terhadap kemampuannya tetap abadi sampai hari ini, sayang sy dan bapak sy tidak mewarisi ilmu pertukangan kakek sy..Walaupun skr sy sudah berkelana ke kampung orang mulai dari Makassar, Jeneponto, Banjarbaru di kalimantan selatan hingga saat ini di Muara Enim Sumatera Selatan kerinduanku yg sangat besar kepada masa kecilku dan Desa Bonde di Campalagian tetap terjaga…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.