Kepercayaan Terhadap Tuhan

Dalam perjalanan sejarah manusia, muncul berbagai macam kepercayaan terhadap Tuhan. Ada kepercayaan yang disebut ‘dinamisme’ yang berarti kepercayaan kepada kekuatan gaib yang misterius. Dalam paham ini ada benda-benda tertentu yang mempunyai kekuatan gaib dan berpengaruh pada kehidupan manusia sehari-hari. Kekuatan gaib itu ada yang bersifat baik dan ada yang bersifat jahat. Benda yang mempunyai kekuatan gaib baik tentu akan disenangi, dipakai dan dimakan agar orang yang memakai atau memakannya senantiasa dipelihara dan dilindungi oleh kekuatan gaib yang terdapat di dalamnya. Sebaliknya, benda yang mempunyai kekuatan gaib jahat tentunya akan ditakuti dan dijauhi.

Ada pula kepercayaan yang disebut dengan ‘animisme’ yang berarti kepercayaan bahwa tiap-tiap benda, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa mempunyai ruh. Tujuan mem-percayai ruh ini adalah untuk mengadakan hubungan baik dengan ruh-ruh yang ditakuti dan dihormati itu dengan senantiasa berusaha menyenangkan hati mereka dan menjauhi perbuatan yang dapat membuat mereka marah.

Ada lagi kepercayaan yang disebut dengan ‘politeisme’, yakni kepercayaan kepada dewa-dewa. Dalam kepercayaan ini hal-hal yang menimbulkan perasaan takjub dan dahsyat bukan lagi dikuasai oleh ruh-ruh, tetapi oleh dewa-dewa. Kalau ruh dalam animisme tidak diketahui tugas-tugasnya yang sebenarnya, dewa-dewa dalam politeisme telah mempunyai tugas-tugas tertentu. Ada dewa yang bertugas memberikan cahaya dan panas ke permukaan bumi. Dewa ini dalam agama mesir kuno disebut Ra, dalam agama India Kuno disebut Surya, dan dalam agama Persia Kuno disebut Mithra. Ada pula dewa yang tugasnya menurunkan hujan, yang diberi nama Indera dalam agama Mesir Kuno, dan Donnar dalam agama Jerman Kuno. Selanjutnya ada pula dewa angin yang disebut Wata dalam agama India Kuno, dan Wotan dalam agama Jerman Kuno.

Karen Amstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan menjelaska adanya dalam diri manusia kekuatan pencarian tuhan disetiap peradaban. Telah banyak kajian teori tentang asal usul agama, dan didapati penciptaan tuhan telah lama dilakukan oleh manusia. Karen Amstrong juga menutip gagasan adanya perasaan gaib yang menjadi dasar adanya agama dari buku The Idea of The Holy karangan Rudolf Otto, ahli sejarah agama berkebangsaan Jerman. Mulai sejak penciptaan pertama, dengan cara yang berbeda beda sudah menginginkan dan meyakini adanya tuhan. Sejak 4000 SM oleh sekelompok manusia yang dikenal dengan orang Sumeria yang menurut ahli sejarah mempunyai perdaban terbesar pertama di dunia merupakan bukti sejarah akan hal tersebut.

Berangkat dari pemaparan kepercayaan terhadap Tuhan seperti tersebut di atas bisa disimpulkan kepercayaan tentang Tuhan sudah ada sejak dahulu dan banyak, sebanyak agama dan kepercayaan yang dianut manusia. Juga secara fitrah, manusia membutuhkan Tuhan. Manusia ketika dengan sendirinya akan menciptakan Tuhan, maka dalam dinamisme, kekuatan gaib yang misterius mungkin adalah Tuhan. Dalam Animisme, ruh adalah Tuhan. Dalam politeisme; Indra, Vitra dan Varuna dalam agama Veda adalah Tuhan. Brahma, Wisnu dan Syiwa dalam agama Hindu adalah Tuhan. Osiris, Isis dan Herus dalam agama Mesir Kuno adalah Tuhan. Al-Latta, al-Uzza dan Manata dalam agama Arab Jahiliyah adalah Tuhan. Dalam agama Kristen, Allah Tritunggal adalah Tuhan dan dalam agama Islam Allah SWT adalah Tuhan.

Kesimpulannya,pembicaraan tentang Tuhan merupakan pembicaraan yang sudah ramai di perbincangkan oleh manusia sejak jaman dahulu kala, disetiap perdaban, disetiap agama. Manusia secara naluri beragama. Menginginkan akan adanya tuhan yang disembah. Senantiasa bertanya tentang apa sebenarnya rahasia dibalik adanya alam semesta ini. Apakah alam semesta terjadi dengan sendirinya ataukah ada kekuatan lain yang mengatur alam semesta ini. Bertitik-tolak dari keinginan manusia untuk mengetahui keberadaan alam semesta ini, maka manusia mencoba mengkajinya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya baik itu dengan menggunakan akal maupun indra.

Hasil dari kajian-kajian yang dilakukan membuahkan hasil akan adanya Tuhan. Manusia sejak jaman primitif sudah mempercayai adanya kekuatan lain di luar diri manusia yang kemudian sampai dengan sesuatu zat maha segala-galanya yang disebut dengan Tuhan. Meski dalam penamaanya bermacam-macam. Dari ketuhanan ini nanti para agama-agama samawy maupun agama wad’iy akan sampai kepada suatu kesimpulan yang secara garis besar berakhir pada suatu penemuan tentang adanya Tauhid, yaitu hanya ada tuhan yang satu, hanya ada zat yang satu yang maha diatas segala sesuatu.

Agama Samawy juga disebut dengan agama Hanif. Dalam agama Hanif, tauhid merupakan inti ajaran secara keseluruhan. Risalah kenabian sejak nabi Adam as. sampai ke Nabi Muhammad saw., adalah risalah yang mengajarkan ke-esaan Allah SWT. Dalam islam sebagai salah satu agama samawy, Muhammad saw. mempunyai beberapa keistimewan dintaranya sebagai nabi terakhir penutup. Tidak ada lagi nabi setalah nabi Muhammad saw. Juga keumuman risalah kenabiannya. Tidak terbatas untuk satu kaum saja tapi untuk seluruh alam. Masuk juga didalamnya mahluk selain manusia. Dan juga Sebagai penyempurnah risalah dan syariat sebelumnya.
Sejak terangkatnya menjadi rasul pada umur empat puluh tahun, hingga wafatnya di usia enampuluh tiga tahun. Muhammad saw., mempunyai sisa umur dua puluh tiga tahun untuk menyampaikan Islam atau yang sering disebut dengan masa kenabian. Tiga belas tahun di habiskan di Mekkah khusus untuk menyampaikan Aqidah Islam sebelum akhirnya Muhammad saw., hijrah ke Madinah. Menunjukkan betapa pentinggnya ilmu tauhid atau ilmu aqidah. Yaitu aqidah yang esensinya adalah tauhidullah, peng-esaan Allah SWT. Hingga akhirnya islam berkembang menjadi sebuah peradaban yang raksasa.

Jadi bisa disimpulkan, esensi peradaban Islam adalah Islam itu sendiri dan esensi Islam adalah Tauhid atau pengesaan terhadap Tuhan, tindakan yang menegaskan Allah sebagai yang Esa, pencipta mutlak dan transenden, penguasa segala yang ada.
Al Quran sebagai kitab suci agama islam dan Hadits sebagai penjelas dari al-quran banyak mengisyaratakan tentang urgensi tauhid. Diantaranya seperti apa yang tertera dalam surah Al Ikhlas ayat 1-4 dan dalam surah Al Baqarah ayat 163.

“Katakanlah (Muhammad) Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan dia. (QS Al Ikhlas:1-4).

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (QS Al Baqarah 163).

Dalam hadits disebutkan

بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله

Artinya: ” Islam itu di bangun atas lima sesuatu: Menyaksikan bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah… (HR Bukhari Muslim)
Setelah wafatnya Muhammad saw, umat islam tetap tidak pernah lepas dari penegakan kalimat Syahadah. La Ilaha Illallah Muhammadun Rasulullah. Bahkan, ketika kemudian timbul perbedaan faham antara sesama umat muslim, dalam kalimah tauhid inilah orang Islam disatukan. Tauhid menjelaskan kepada umat islam bahwa mereka mepunyai satu kesamaan yang universal. Tidak memandang mereka itu dari golongan Mutakallimin yang selalu berdebat masalah aqidah, kalangan Filosof Islam yang ingin menyatukan antara wahyu dan akal, Ahli Fiqhi yang berkecimpung dalam hukum ibadah dan mu’amalat, Tarekat Sufi yang fokus dalam masalah suluk, ahlak dan mujahadah, atau Partai Politik Islam yang sibuk dalam pemerintahan dan memperjuangkan keadilan. Semuanya bisa bersatu pada suatu titik sentral yaitu peng-esaan Allah SWT. Sama sama menyembah Tuhan yang satu.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s