Antri Jamiah Syariah

Kalau sekarang masyarakat di indonesia mengenal yang namanya BLT. Bantuan langsung tunai. Di mesir juga ada BLT nya lho. Bedannya, ini bukan pemberian dari pemerintah Indonesia Mesir (bc:KBRI) untuk masyarakatnya (bc:Mahasiswa). Tapi ini adalah mukafaah dari lembaga masyarakat mesir yang bernama Jamiah syariah. Kadang kadan di istilahkan beasiswa. ada kalanya Musaadah (Bantuan) BLT banget deh kalau make kata Musaadah.:D

Dari draf daftar penerima, aku termasuk didalam daftar penerima bantuan tersebut. Buatku, sangat membantu biaya keperluan hidup di Negeri Musa dan Firaun ini (aku Musa-nya kamu Firaun-nya) hihihi…. Mendapatkan 50 pond perbulan, manfaat banget untuk aku. Bisa makan enak nih diwarung pojok, plus bisa beli pulsa vodafon khamsah wa isyrin, kan lumayan tuh buat sekedar sms, kontak keluarga selama sebulan. kadang-kadang sms pacar.hihihi… Pokoknya bantuan JS sangat membantulah buatku.

Bla bla bla… tut tut tut…Wa ba’dein, Dan akhirnya hari ini aku tibalah waktuku kemabali dapat jatah bulanan. Jihad coy… Senyum sumringah terpancar dari rona mukaku, persis kayak lampu neon yang baru saja di buka kotaknya. Sisi rumah yang berdebu ilang diterpa sinar kilaunya. (bueh, hiperbola banget deh, emang bisa?). intinya, hari ini aku bahagia karena bakalan dapat 50 pond. Rejeki emang gak bisa di tolak, pantas aja dari tadi telapak tanganku gatal mulu. (apa hubungannya) hihihi….

Mulailah pengembaraanku turun gurun Kattamea menuju mesjid Raodha tempat Jamiah Syariah membagikan musaadah. Persis pendekar yang turun gunung untuk melatih ilmu kanuragannya. Sok mantap banget. Alhamdulillah dah, dimusim panas ini warga mesir emang banyak yang terkapar di pagi harinya. Jadi aku bisa tenang dapat kursi kosong selama dalam perjalanan. Biasanya juga bergelantungan seperti lutung di pepohonan. Biasanya ada dua penyebabnya kenapa bisa bergelantungan. Pertama, karena tidak ada penumpang seperti hari ini. wajar deh.  Atau yang kedua., aku sebenarnya dapat tempat duduk, tapi, karena baik hatiku dan rasa iba terhadap emak-emak mesir yang memang sengaja berdiri pas di tempat aku duduk. dengan rona wajah yang malu maluin kalau gak ngasih dia tempat duduk. Jadi deh aku Superhero yang didalam hati ngeluhnya minta ampun. Huh si Ibu udah tau sesak ngotot aja naik:D. (huss buka topeng aja. kamu juga seperti itu kan?? hihihi)

Nah, hari ini, tak ada penumpang, tak ada juga emak emak Mesir yang menawarkan kesedihannya di samping wajah polosku. *Lebay dah…* Jadilah aku serasa sang pangeran yang kokoh duduk disingga sana tanpa ada oposisi dari keluarga atau lawan politik. (Justis Bao banget). Tedeeeng…. Tigapuluh menit lewat lima menit, aku sampai di halte bus Hay Asyhir (bc dengan tekanan huruf Syai,biar kentara Tajwidnya bro). Nah, dari sini kira2 tiga puluhan meter aku sudah sampai di tempat tujuan. Kulangkahkan kaki, lambaikan tangan. JS, abang datangggg….hihihi.

Cuaca hari ini kebetulan panas. Emang musim panas. Pastilah panas. Gimana sih…. Maksudku gini, cuaca hari ini agak mendingan dari pada hari-hari yang lainnya di musim panas. Dari sengatannya sih aku perkirakan sekitar 29 derajatlah (kek termometer aja, pake perkiraan lagi). Lumayanlah daripada hari kemarin dan sebelum kemarin yang mencapat 40 derajat. Uhhh.. migrand pasti kalau aku lama berjemur di bawah terik 40 derajat.

Dari semua hal ikhwal yang aku lalui. Dari singgasana mobil sampai cuaca yang bersahabat. Serasa hari ini semuanya diatur Tuhan hanya untukku. Untung saja awan putih tidak mengikuti langkahku, andai ia, benar-benar deh, serasa se-special nabi Muhammad. hihihi… Amma ba’du wa ala kulli hal…. Perfeck dah, cium ketek kanan kiri juga gak ada masalah, dah pake rexona boy. Semuanya aman terkendari. upss terkendali.. Pe-de abis, keren abis, mantap abis pokoknya abis-abisin deh hari ini. Apalagi ditambah baju baru yang Jaiz bawain dari indo… kuning coy, golkar banget serasa ingin kampanye aja “lebih cepa’ lebih bae’” hihihi… muantap abizz deh.. padahal mau antri…hihihi…..

Nah gini nih kalau datangnya terlambat. harus rela berada di barisan paling belakang. Andai sebuah peperangan, mungkin bisa bersyukur dah, bisa mati belakangan (taktik pengecut). Tapi ini antrian boo, yang paling belakang yang mati duluan. hihihi… Tapi, namun, seperti yang aku bilang tadi, hari ini emang aku merasa aku yang paling keren, so aku cuek saja, semakin jauh antrian, semakin pd aku melangkah ke barisan paling belakan…. suit suit… untung saja gak ada yang minta tanda tangan udah siap-siap mau jawab maaf gak ada tanda tangan hari ini. *obsesi selebritis banget padahal seleb gak gtu gitu amat perasaan* hihihi. Egepe. Emang gue pikirin!

Be-te juga ternyata di barisan paling ujung diantara ujungpandang ibokata sulawesi selatan yan dirubah nama menjadi Makassar. Upss salah sambung doll…. Gini nih rasanya kalau prediksi tidak akurat. Biasanya sih gak se-apes ini, Biasanya aku datang di hari terakhir jam terakhir pula. Saat sahabat Maisisr semua udah kehabisan Jamiah Syariahnya. Kali ini ternyata buka terakhir. tapi besok. Uhk… ibaratnya nih, antian kali ini lebih panjanga daripada panjanga ular di anaconda III. Berliku dan berliuak kayak baygon bakar jaminan mutu.

Bay de wai. Ani wai. Ditengah ke-bete-an, aku mencoba hidup dialamku sendiri. Sana sini kupandangi potret wajah-wajah Masisir yang datang hari ini. Dan dirimu adalaaaaah…. Daya diarmon suponyono. hihihi.

Setelah mengamati garismiring menimbang garismiring menetapkan garismiring dasar orang miring. Kesimpulannya, ada beberapa type orang antrian saat itu. Ada type Ust tulen, baju koko, kopiah, celana kain, sandal jepit, plus jenggot tebal dan panjang, ada yang panjang nya kira sampai sepuluh inci, tapi kebanyakan janggotnya gaul, mirip2 jangot ust jefri gitu, pendek melengkung. kadang-kadang pake kacamata, pokokny mantap banget deh ditambah Alquran ditangan kiri, tasbih ditangan kanan, terus siwak yang dari kejauhan samar samar nampak dibalik baju koko. Mulut komat kamit. Tak ada waktu yang terbuag begitu saja. Kadang-kadang ngorol santai bahas soal ikhtilaf ulama sampe terjun berbincang masalah dunia politik. Top banget dah. Kapan yah diriku bisa seperti itu… hihihi….

Adalagi type yang lain, yang kedua, kontras banget ama yang pertama tadi. Beda banget dengan latar belakang kuliahnya yang beridentitaskan Al Azhar. Ngantrinya pake baju kaos, necis dengan berbagai gambar atau tulisan tulisan apalah gitu. (kek gini kadang kadang juga aku make) secara dari kaos aku sih gak masalah denga type ini.Tertolelir mungkin istilahnya. Tapi yang buat aku kurang setuju penampilan celananya yang norak. Punk  abis kayak mau manggung ngiringi Serius band aja. Padahal mau antri jamiah syariah. Masih di bawa bagian kedua, adalagi yang lebih parah, udah sampe make celana pendek segala, diatas lutut lagi, emang mau main bola ya mass…hihihi. Ada bahkan yang terang-terangan ngerokok. Secara Hak Asasi Manusia sih aku akan mengatakan itu Hak kamu coyy.. Tapi secara Ahlakul karimah, aku prihatin mas…. jangan jangan kuliah di Azhar salah jurusan. Atau terpaksa kali yah oleh suratan takdir. hihihi.

Bukan type aku sih menilai orang baik buruk dari luarnya. Mungkin baiknya aku husnudzon aja ma penampilan pakaian kek gituan. Berbagai anggapan baik berusaha aku munculkan. Mungki teman kita ini lagi kehabisan celana, mungkin ujian yang baru selesai ini membuatnya konsen, sehinga tidak mampu mencuci pakaiannya, hingga tinggalah celana itu tok. aku jga pernah kalau keabisan gitu. Atau mungkin teman kita ini masih mimpi… gak sadar diri melangkah kan kaki ke Jamiah Syariah dengan dandanan seperti itu. coz kentara banget tuh dari muka, 51% belum mandi. Semoga saja udah tersenduh air wudhu. (jangan sampai ada yang antri belum shalat subuh:D) hihihi….de el el.

Nah ada lagi nih yang type ke tiga. yang terakhir. Kalau bisa di istilahkan sih, type Al washatiah, moderat mungkin pas buat indonesianya. Yah, secacara penampilan sih gak dibilang ustad maskudku gak make pakean ustad (atau emang gak mau di panggil ustad kali yah). Pun, secara kasat mata biasa-biasa saja gak terlalu menonjol dari segi pakaiannya. Pakai baju kaos, kadang-kadang makevkemeja. celana jeans, agak fungky tapi gak sepangy type yang sebelumnya. Apalagi sampe make kolor ijo. eh salah, maksudku gak sampai memakai celana pendek gitu. Pakaiannya sopan dan tutur katanya lembut (emang ngomong satu2 ma mereka?:P). Type ini aku perhatikan di anut oleh kebanyakan Masisir. Aku barangkali salah satunya. Intinya, kalau di istilahin kyak Shirathal Mustaqim lah atau minjam istilahnya Mu’tazilah gitu, Manzilatun bainal manzilatain... hohoho *ketemu gak yah?* hihihi…

Yah lumayan pelepas rasa suntuk, coba menerawang sekeliling dari sudut pandang sendiri mungkin saja akan menjadi sebuah paradigma baru. Suit suit. Melangkholis banget dah. Gak tau deh aku tadi ngomong apa. hihihi. Singkat cerita, tiba tiba giliranku di depan mata….

Kam rakmak…?? Nomer kamu berapa, berapa nomer mu, ah.. kayak gitulah artinya. Tanya pegawai JS. Sub’u miah wa talatinnn…. 730 jawabku sefasih ammiyah tiga tahun tinggal di Mesir. Arab Aslinya sih Tzulsu mi’ah wa Sab’un…. tapi gak make itu, ntar pegawainya ucapin Shadaqhallahul Adzim. dikiranya aku ngaji.

Zzzzzzzzzz….
50 le hari ini ada ditangan. Alhamdulillah….

2 thoughts on “Antri Jamiah Syariah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s