Mimpi

Dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Sudah banyak bukti dan tidak ada yang mustahil. Dengan tekad, usaha serta iringan doa semua bisa. Jangan ada kata putus asa, karena itu merupakan kekalahan.
Berilah segala apa yang engku miliki untuk meraih mimpimu. Begitu juga dalam penuntutan ilmumu. Karena ilmu tidak akan memberimu sedikit, kecuali engkau telah memberikan segala apa yang engkau miliki.

Puluhan juta orang yang ingin meraih mimpinya, namun tidak banyak yang bisa merealisasikannya. Dulu kuliah di luar negeri dan menyelsaikan sarjana di Azhar, hanya sebatas mimpi belaka. Mimpi aku yang juga mimpi seorang ibu yang tak henti mendoakanku di pertiga malam. Ibu yang sering aku panggil dengan sapaan Aca’. Sebuah panggilan yang katanya tidak di pakai oleh sembarangan orang di Mandar, Ah, entahlah, aku sendiri tidak pernah mempersoalkan panggilan itu. Dan aku tida ingin membahas itu saat ini.

Ini adalah tulisan tentang mimpi Aku, Aca’ku (panggilan buat ibuku) dan Ajiku (panggilan buat ayahanda)
Mimpi untuk kuliah ke luar negeri. Memperdalam ilmu Agama di Azhar. Dan hanya cukup status sarjana. “Cukup sarjana saja nak, Aca’ sudah sangat bangga”. Tutur Aca’ saat melepas Aku ke kairo, mengejar mimpiku.

__________________________________

Mimpi ini juga yang membuat Aku, Aca’ku dan Ajiku berbeda pendapat. Dulu Ajiku tidak pernah rela menjadikan aku sebagai lulusan luar negeri. Dia tidak setuju aku melanjutkan sekolah di luar negeri. Dan malah menggiringku untuk tidak kuliah, beralih profesi menjadi petani tambak menggantikan profesinya, dan profesi kakek moyangku.

Sekolah hanya sampai SMA paling tinggi,bisa baca tulis, menikah dan kelola empang…Lalu kemudian beranak cucu dan kembali doktrin ini di paksakan ke keturunan berikutnya, sterusnya dan seterusnya. Itu sudah cukup. Itulah yang bisa aku simpulkan setelah beberapa kali mendengar ceramah panjang dari Aji. Ocehan yang kadan mendongkolkan hatiku. Mendosakan aku, karena membuat aku selalu berfikiran tidak baik kepada Aji.

Tidak ada kebebasan. Tidak ada saling menghargai pendapat, dan otoriter. Semua harus tunduk patuh pada keputusan Aji. Dia adalah raja diraja di keluarga kami. Hukum yang berlaku adalah hukum yang di keluarkan oleh Aji. Dan tidak boleh ada kata menolak. Itu tidak ada dalam kamusnya.

Arghh… Entah alasan apa yang ada benak Aji saat itu. Melarangku untuk kuliah, padahal dukungan penuh datang dari berbagai pihak. Termasuk Aca’ku yang mati matian membujuk Aji, seraya mengikhlaskan aku pergi. Hanya meminta kata ikhlas, karena dana untuk kepergianku siap di tanggung sendiri oleh Aca’ku. Aku betul-betul tidak faham jalan pikirannya.

Mungkin kalau aku ingin menerka, berfikir positif saja, Aji mungkin hanya ingin melihat saya sukses. Anaknya bahagia dengan lahan dan biaya pernikahan yang sudah dia siapkan. Kelak bisa punya banyak harta dan puluha cucu di masa tuanya. Mungkinkah sesimpel itu? Entahlah….Tapi lain bagiku.

Kesuksesan itu tidak hanya dilihat dari banyaknya harta, apalagi keturunan, Ada banyak hal yang tidak bisa di beri oleh harta. Kebahagiaan terlalu sempit kalau dalam ukuran duniawi. Harta akan punah, tapi Ilmu tidak akan. Ilmu akan selalu abadi, apalagi ilmu agama. Sebuah jalan yang akan membawa kita untuk bahagia. Bukan sebatas kebahagiaan dunia tapi juga kebahagiaan yang kekal abadi di akhirat.

Tidak sependapat, Berkali kali aku tetap menjelaskan. Menjelaskan dengan rinci tujuan dan mimpi ini bukan sekedar bualan belaka. Aku mampu dan aku yakin bisa menjadi sarjana. Aku yakin Aku akan bahagia dengan mendalami ilmu Agama. Aku percaya, dengan apa yang aku pilih, hidupku akan terarah dan lebih bahagia.

Namun semua tidak ada manfaatnya. Karena ternyata, keras hati Aji tak luluh oleh ocehan anak kecil sepertiku waktu itu. Rontaku serta penjelasanku ternyata malah membangkitkan emosi Aji. Yang pada akhirnya ancaman tidak dapat warisan menggerutu di telingaku jika seandainya aku tetap keras ingin meraih mimpiku. Akupun sepertinya, darahnya mengalir dalam tubuhku, kesombongan dan keras hatinya juga meliputi ragaku. Aku meronta, membentak dan menantang Aku bisa selsai kuiah tanpa biaya dari Aji.

Suasana cengang, diam dalam sunyi. Tak ada kata-kata selain tetesan air mata yang aku rasa.

Suasana itu adalah tahun dimana aku ingin berangkat ke Mesir. Sekarang semuanya terlewatkan hampir empat tahun lamanya. Tak terasa aku sedikit lagi sampai di pintu impian itu.

Kalau aku mengingat masa-masa itu, hanya akan menyisakan pilu. Di suatu sisi penyesalan. Disisi lain, apa yang aku perjuangkan adalah kata hatiku. Bahkan itu adalah anjuran agamaku…Mungkin penyesalanku karena aku tidak bisa menyampaikan kekesalan itu dengan bijaksana. Aku terbawa emosi dan tidak bisa bertindak dingin. Membentaknya dengan kasar. Tidak mempertimbangkan perasaannya. Oh betapa durhakanya Aku.

Sekarang penyesalah hanyalah tinggal penyesalan. Aku tak bisa katakan permintaan maafku kepadanya, karena Tuhan lebih mencintainya. Aku dan AJi semakin jauh. Alam kami berbeda. Aji telah meninggalkan dunia fana ini, tepat tahun ke II saat aku berada di Kairo. Aji meninggalkan semuanya… Termasuk, meninggalkan aku dengan tuntutan mimpi yang harus terealisasi.

Aku yakin, Ajiku disana bisa melihat aku disni. Aku tak ragu itu. Banyak hadits yang menerangkan bahwa orang mati bisa melihat mendengar dan merasakan tiap perbuatan kita. Aku semakin yakin Ajiku, dari kejauhan memperhatikanku. Sedik jika Aku bermaksiat untuk Tuhanku. Dan senang jika aku berbuat baik walau hanya sekedar mengirimkan surat Al fatihah di setiap doa shalatku. Aku yakin dia tahu keadaanku.

Dan sepertinya, Aku pernah melihat Aji menatapku dengan senyum bangga, dengan apa yang telah aku raih sekarang ini. Aku mendengarnya berkata kepadaku, Ah… aku tidak bisa membahasakan dengan persis. Yang aku tahu dari kalimat itu, Ternyata Aji duluunya juga punya mimpi yang sama, mimpi untuk sekolah yang tinggi. Setinggi tingginya. Memperdalam ilmu Agama. Tapi semua terhenti karena kakek lebih memilih dia untuk bekerja….

Yah, mimpi yang sama tapi keberanian yang beda.

3 thoughts on “Mimpi

  1. hiks his hiks,,, sad, sad, sad,, hmmm tetap smangat berjuang meraih apa yg dicita2kan, semoga dapat terwujud, n dgn itu bisa membuat org2 di sekelilingmu bahagia n bangga, smoga bisa dapat berkah untuk kebahagiaan dunia n ahirat,, amiin,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s