Aku, Al-azhar dan Instansi Depag

Tahun 2005 adalah tahun yang sangat menggembirakan buat aku saat itu. Tamat Madarasah Aliah Keagamaan Negeri (MAKN) Makassar, akhirnya terwujud. Artinya, sebentar lagi aku akan menjadi seorang Mahasiswa.

Al azhar University adalah impianku selama ini. Allah memberikan peluang untukku. Depag sebagai Instansi yang dipercayakan Al-azhar menyeleksi mahasiswa Indonesia, mengumumkan aku termasuk salah satu utusan Makassar yang berhasil lulus mendapatkan Beasiswa ke Mesir. Dengan syarat, harus mengikuti ujian susulan yang diadakan Depag di Kedutaan Mesir, Jakarta.

Sangat begitu tinggi peran serta Depag dalam membangun Negara ini. Diadakannya kerjasama antar Al azhar, memberikan beasiswa bagi Asset Bangsa yang berpretasi. Membangun SDM lewat daun muda yang diharapkan mampu menjadi pembaharu setelah datang dari Kairo, Mesir.

Kekaguman yang amat berlebihan saat itu. Tak pernah terpatri lagi dalam hati ini bagaimana aku bisa membalaskan jasa Instansi Negara ini. Begitu Agung nan Mulia. Departemen Agama, Indonesia.

Yah, kisah ini takkan pernah hilang dari ingatanku. Akan aku tuliskan kisah pengalaman perjalanan ku ke Kairo. yang begitu pilu. Menjadikannya tulisan sebagi ungkapan hati saat lidah tak mampu lagi untuk menyuarakannya.

Aku lulus tes. Kapasitasku aku andalkan. Tak membuatku sulit mengikuti tes yang diadakan Depag di UIN Makassar. Alhamdulillah, bisa menjadi utusana kota Makassar untuk tes di Jakarta.Aku lulus, aku menang. Aku termasuk salah satu dari mereka, 110 orang yang nanti akan disaring menjadi 90 orang. Wakil Indonesia tahun 2006 di Universitas Al-Azhar. Tes kedua, Jakarta, menantiku.

Perjuangan aku hampir selesai. Berkas dan seluruh persyaratan telah lengkap. Tak tertinggal sedikitpun. Passport sebagai syarat setiap dari kami, pun telah aku punya. Tak hayal, perasaanku bagikan pendaki gunung yang sedikit lagi akan sampai dipuncaknya. Sebentar lagi, aku akan menyaksikan keajaiban Alam yang aku cita citakan. Mimpiku akan jadi kenyataan. “Al Azhar aku akan datang!” begitulah kira-kira saat itu hatiku berbicara.

Di Jakarta. Aneh bin ajaib. Hatiku tidak tenang. Berbagai keganjalan terjadi saat aku pertama kali menginjakkan kaki di Departemen Agama. Konfirmasi kelengkapan berkas mengejutkanku. “Berkas saudara belum masuk”. Salah satu pegawai Depag mengucaapkan itu kepadaku. “Lho? Bukannya sudah sampai pak?” Polos dan sangat lugu. Aku tak tahu apa apa.

Pusing dan tidak tahu kenapa. Padahal jelas jelas, Tiki; Agen surat menyurat yang terkenal di Indonesia memberikan keterangan suratku sudah sampai. Anehnya lagi, satu diantara temanku ternyata sampai. Padahal berkasku bersamaan dengannya. Aku yang mengantarnya ke Tiki. Aku yang membungkusnya dengan rapi, dan aku yang membayar biaya pengiriman. Ada yang salah. Pasti ada yang salah. Saat itu aku bertaruh dengan keyakinanku.

Beruntung, aku punya fotocopy berkas yang katanya sudah hilang itu. Saat itu aku masih bisa bertahan. Masalah keanehan pertama di Departemen Agama terselesaikan. Berkas cadangan membantuku saat itu.

Dari kantor Departemen Agama. Aku mendapatkan Jadwal tes di kedutaan Mesir. Aku temasuk orang yang akan menjadi peserta tes terakhir. Dari 110 orang dibagi menjadi beberapa kelompok. Makassar mendapat tempat terakhir untuk mengikuti tes di Kedutaan Mesir. Aku bahagia . Aku punya lebih banyak waktu. Aku bisa belajar dan memantapkan hafalanku.

Hari itu pun datang, tes kedua, Kedutaan Mesir. Persiapanku bagai bala tentara yang mendapatkan tugas khusus dari atasan. Begitu matap dan sempurna. Semuanya aku telah persiapkan. Pakaianku begitu rapi, tak pernah aku berpakaian serapi saat itu. Sangat antusias. Doa dari orang tua dan kerabat begitu menguatkan ku saat itu, aku tak pernah seyakin saat itu. Aku akan menjalani sesuatu yang bersejarah dalam hidupku. Aku akan bertempur. Aku akan ke Mesir

Sebagai kelompok terakhir tes beasiswa Univesitas Al Azhar Mesir, keanehan kedua mengganjal pikiranku. Seorang pegawai Depag berdiri didepanku. Diam dan cuek. Penasaran. aku tetap bertanya kepadanya.

” Keseluruhan ada berapa orang pak yang ikut tes?” Tanyaku. “Yang memenuhi berkas dan sampai ke Jakarta hanya 92 orang dek”. Jawabnya singkat. Waw, 92 orang. Gumamku dalam hati.

Kata-kata itu masih terngian di telingaku. Artinya, semakin sedikit peserta tes maka peluang akan semakin banyak. Dari 110 peserta tes, cuman 92 orang ikut. Itu berarti, 18 orang telah dinyatakan gugur. Dan tinggal 2 orang saja yang akan di eliminasi. Menjadi utusan depag 2006. Harapanku semakin melambung.

“Tapi pak yang ikut di dalam itu siapa pak? Bukan anak depag yah? Mereka termasuk 92 orang itu?” tanyaku, Sambil menunjuk sekelompok orang yang juga ikut tes saat itu.

“Oh itu? Itu lain, bukan anak Depag. Itu Beasiswa lain” jawabnya santai.

Aneh. bukan anak depag? Beasisawa lain? Tapi kok di Kedutaan? Beasiswanya kemana? Ke amrik? Kok di kedutaan Mesir? Raguku dalam hati. tapi saat itu aku tidak mau mabil pusing. Aku kembali berkonsentrasi bersiap diri untuk tes.

Alhamdulillah. Tes Jakarta yang aku tunggu selama satu tahun, Ternyata sangat mudah. Tak pernah aku mendapatkan ujian semudah itu. 2 juz yang jadi persyaratan serta soal Bahasa Arab dan Agama yang di teskan kepadaku diluar dugaanku. tidak berlebihan aku katakan, bagaikan tes anak Mts kelas tiga di Pesantrenku . Keyakinanku kepuncak Kairo semakin menjanjikan. Tes kali ini lebih meyakinkan kelulusanku daripada tes pertama di Makassar. Lebih mudah. Bahkan sangat mudah. Menjadi dua orang yang tersisih jauh dari perhitungan matematisku. Allahumma waffiq. Gumamku dalam hati

Keptusan dua hari lagi akan diumumkan di Departemen Agama. Keanehan ketiga menyapaku.

“Nakda, keputusannya belum keluar, masih di Keduataan, masih menunggu syekh dartang dari luar kota”.

Begitu lah kira-kira alasan Depag kepadaku.Di hari kedua. Hari yang di janjikan. Aku biasa-bisa saja.

Dua hari berikutnya aku kembali ke Kantor bertitelkan Agama itu. Capek dan merasa terbohongi sudah datang sedikit demi sedikit.“ Nakda, belum ada pengumuman. Begini saja, pulang saja dulu ke sulawesi nanti kalau lulus tidak lulus pasti kami telpon”. Sangat meyakinkan kata kata sang pegawai itu. Aku rindu. Aku memang niat pulang secepatnya.

Akhirnya kuputuskan meninggalkan Jakarta. Menggantungkan harapanku pada deringan telpon yang akan membarikan kabar gembira kelullusanku nanti. Tak ada rasa waswas saat itu semuanya kembali seperti semula.

Kalau tahun kemarin, dua jam setlah tes, Kedutaan akan mengumumkan hasilnya. Sms itu membuat ketenanganku mulai terusik. Sms dari teman yang juga lulus depag tahun sebelumnya. Kenapa saya begitu lama? Apa yang terjadi.

Kuraih telponku kuhubungi Departemen Agama. Pensaranku bergejolak. ”Pak bagaimana hasil tes kemarin? Apakah sudah ada pengumuman?” tanyaku. “ Iya, sudah.” Jawabnya santai. “Yang dari makassar berapa orang yang lulus pak?” kembali rasa penasaranku bertanya. “Yang dari makassar cuman dua,yang lainnya tidak lulus” jawabnya. Astagfirullah gumamku. Kenyataan berkata lain. Keyakinanku akan jadi rengkin 89 ternyata berkata lain. tuhan menguji kesabaran ku. Aku tabahkan hati menerima keputusan itu.

Tapi penasaran tetap saja menghampiriku. Handphoneku masih tetap tersambung, “terus pak dulu waktu saya terakhir tes, jumlah peserta saat itu 92 orang pak. Artinya, 2 orang saja yang akan di gugurkan. Kenapa begitu banyak pak?. Makassar saja yang gugur 6 orang. Kenapa bisa begitu?” Protesku seakan tak menerima semuanya

Dik saat ini mahasiswa yang akan diutus ke Kairo hanya 60 orang itu permintaan dari Azhar. Makanya banyak yang digugurkan. Maaf dek. Ini bukan kami yang putuskan.

Kata kata itu meruntuhkan semua Argumentasiku harapanku sirnah. Tak ada lagi kata yang sanggup aku ungkapkan. “Makasih pak.”. Pembicaraanku terputus. Cita-citaku kini semakin jauh. Aku terhempas dai ketinggian juang yana aku daki. Aku tak bisa menggapai puncak impainku. Aku tidak lulus.

Sedih akan memberitahukan semuanya pada ayah dan bundaku. Mereka akan mendengarkan sebuah kenyataan pahit ini. Aku mengecewakan mereka. Aku kecewakan diriku sendiri. Aku hamper tak yakin. Kenapa bisa begini.

“Sabar dan tawakkal nak ini semua telah diatur oleh yang maha bijaksana. Semuanya telah ada dalam genggamannya”.terharu aku mendengarkan kata itu dari bundaku. “Jangan putus asa nak kalau kamu betul betul mau pergi. Kami siap membiayaimu”. Tangis haru membasahi pipiku. Semangatku bagai api yang menemukan kayu kering. Berkobar dan sangat membara. Terima kasih bunda. Terima kasih.aku ingin ke Azhar.

Dengan perasaan gembira akhirnya aku sampai di Kairo. Masa masa ujian di Depag dulu akan hanya menjadi kenangan. Telah mejadi warna tersendiri dalam hidupku.

Satu bulan di Kairo anak Depag pun datang. Salah satu teman tesku di Jakarta kaget. “Kok kamu ada disini?” tanyanya, heran melihatku lebih duluan ada di Mesir. “Aku pake biaya sendiri”. Jawabku. “Eh, bagaimana Depag tahun ini, katanya 60 orang?” Tanyaku kepadanya. “Ah siapa bilang? 90 orang kok”.

Pandanganku sinis. Keanehan yang selama ini aku rasakan bukanlah sebuah dusta, sekarang aku jadi korbannya. Kecewa terhadap Departemen yang mengatas namankan Agama. Kesal dan sangat tidak pernah terbayangkan. Kesucian departemen Agama buatku sudah tercoreng. Aku tidak percaya dengan Departemen itu.

Dari mana yang tiga puluh orang itu? mungkin dari anak pimpinan pesantren. Atau mungkin anak kesayangan syekh di Pesantren atau mungkin orang yang membeli jatah para calon yang digugurkan. Dari jatah aku. Dari jatah teman teman aku. Peserta tes depag tahun2005-2006.

Semuanya akan menjadi pelajaran tersendiri bagiku, akan mejadi catatan hidup aku. Pengalaman yang tak terlupakan. Semoga hal ini tak terjadi pada mahasiswa yang akan datang di kemudian hari.

*Catatan lama

2 thoughts on “Aku, Al-azhar dan Instansi Depag

  1. hatiku terharu membaca jalan menuju mimpi…dan aku pun akan mengejar mimpiQ sepertimu,meskipun penuh dengan kekurangan yg kumiliki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s