Sameh Mohamed

Setelah shalat subuh kutulis catatan ini. Entah kapan aku mengenal keluarga ini, jelasnya aku tak ingat….

Yang ada di benakku, awalnya Kami berkenalan di Kuliah. Hanya satu tahun saja Kami duduk satu ruangan, karena akhirnya Dia tidak naik ke tingkat dua, dan pada tahun selnjutnya saat Kami naik ke tingkat tiga, ternyata Dia masih tertinggal di tingkat satu, dengan keadaan itu membuat Dia berinisitif berhenti kuliah fokus pada kerja.

Setelah Dia tertinggal di akhir tahun ajaran pertama, Aku berusaha untuk tidak tampak lagi di hadapannya, Aku yakin Dia akan malu karena sebenarnya tidak naik tinggkat merupakan aib tersendiri buat orang Mesir. Apalagi Dia yang jelas mati-matian belajar dan sangat rajin ke kuliah. Aku ingin mengimbanginya, Aku seakan menjauh darinya, atau mungkin baiknya Aku tidak bertemu lagi.

Pikirku Dia akan lupa atau mungkin akan marah terhadap tingkahku. namun ternyata tidak sama sekali. Berkali kali saat Aku dengan teman-teman kumpul di ruang kuliah, Dia datang menghapiri Kami. Menghampiri orang-orang yang selama ini menginkan jauh dari dirinya. Kusadari sikapku saat itu salah.

Aku juga masih ingat, disetiap ada liburan, Dia pasti mencariku atau sekedar menelpon mengajak Aku berkunjung ke rumahnya. Pernah di tahun pertama, kesana dengan personil tujuh orang. Aku dan beserta teman-temanku waktu itu masih berstatus anak baru. Berangkat ingin menikmati suasana pedalaman Mesir tanpa mempertimbangkan kata repot.

Pernah juga, dalam percakapan telpon, tidak tahu jalan menjadi alasan Aku untuk menolak kesana. Padahal itu adalah untuk kesekian kalinya Aku di undang kesana. Tidak tanggung-tanggung alasan tadi membuatnya datang ke Kairo. Padahal Kofr Syukr, Adalah sebuah kampung halaman di propinsi lain Mesir, sebelah Barat dari Ibu Kota Kairo. Jauh.

Waktu tidak lulus untuk kedua kalinya. Dan memutuskan untuk bekerja saja, Aku iba dan merasa sedih. Begitu cepat dia menyerah pikirku. Enam mata kuliah kalau dipaksa untuk di seriusi pasti Dia bisa. Apalagi Dia seorang Mesir yang sekali baca saja faham isi diktat. Ah saat itu tidak ada hal yang bisa Aku beri selain motivasi semangat dan doa saja. Tapi sepertinya nihil, karena bekerja adalah menjadi pilihannya terbaik menurutnya saat itu. Aku hanya bisa lebih memahaminya dari keadaan keluarga saja. Dia anak pertama dan dari keluarga yang juga jauh dari gelimangan harta. Sama seperti Aku.

Kali ini kali ke tujuh Aku ke rumah ini. Biasanya Aku berombongan, tapi kali ini cuma Aku dan Waris. Memang, diantara teman temannya, hanya Aku dan Waris yang sangat di kenal oleh Keluarganya. Bapak Ibu dan adik-adiknya. Sekrang kami anggap ini mungkin menjadi kunjungan perpisahan Kami, karena setelah pengumuman lulus, Waris berencana kembali ke tanah air. Barangkali juga Aku.

Takkan Aku bisa melupakan keramahan keluarga dan masyrakat ini. Jamuan dan kasih sayangnya kepada Kami. Selalu saja dari tahun ketahun tidak ada yang berubah. Tidak ada bosan, bahkan ada kata sedih karena Kami berbulan bulan tidak berkunjung. Ini bukan mujamalah biasa. Karena dari raut wajah keluarga ini saya faham, mereka merindukan Kami. Meski Kami hanya bisa duduk diam terima jadi ketika berada disana.

Antum zai auladna hena. Masif farq bainkum wa bain sameh. Kami faham, mereka telah menganggap Kami bagian dari Keluarga ini. Bahkan seperti Sameh anaknya sendiri. Keluargaku yang baru di pedalaman Banha. Desa Mufti. Kofr Syukr. Di pedesaan ini kutemukan sebuah arti persaudaraan yang terbangun dalam ukhuwah Islam. Penerapan sabda nabi, bahwa memang sesama muslim adalah bersaudara.

Terima kasih untukmu saudaraku. Semoga disetiap kebaikanmu menjadi pahala disisi Allah swt. Di perjalanan hidup ini, mengenal dan bisa menjadi bagian dari keluargamu adalah sebuah warna indah dalam hidupku. Mungkin seandainya jarak ini tidak menghalangi, ikatan persaudaraan ini mungkin bisa lebih kita eratkan. Seperti memberanikan diriku untuk meminang adikmu. Yah, Aku serius. Keluargamu berbeda dengan kebanyakan orang Mesir yang aku lihat di Kairo. Tapi pinangan ini cuma berani Aku torehkan disini, karena Aku yakin Kau tidak membaca goresan ini. Andaipun Kau baca, pasti Kau tidak faham. Ah andai saja adikmu bukan orang Mesir.

Jalur rumahmu. Tersave utuh dalam memori otakku. Tak usah kau risau kawan. Kelak seandainya ini menjadi kunjungan terakhirku. Setelah di Indonesia akan kuniatkan ke Mesir jalan jalan. Mengunjungi keluargamu akan kujadikan tour utama di negeri ini. Karena Kau dan keluarga ini, sejatinya juga telah menjadi bagian dalam hidupku.

Titip salamku untuk Ayah ibu dan adikmu, Atef dan Fatmah.
Semoga kebahagiaan selalu menyertai hidup kita.

Kofr syukr 4 Ramadhan 1432

9 thoughts on “Sameh Mohamed

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s