Mengikat Makna

Ini adalah ide dari Herwono Hasyim. Untuk mengikat makna atau melestarikan apa saja yang telah kita baca dan kita hadapi disetiap harinya dalam sebuah tulisan. Pembacaan yang menuntut hasil, berupa review dalam bentuk kata-kata. Ini sangat menarik. Metode ini seakan menghidupkan kembali semangat menulis yang semakin hari, sepertinya semakin redup saja.

Harus saya akui, sekarang ini, meski sudah ada beberapa tulisan yang saya tulis. Baik itu berupa tugas kuliah ataukah sebuah curhat yang tidak penting di blog, semuanya belum bisa mewakili bagaimana sebenarnya saya dalam menulis. Banyak unsur orang lain yang ada di dalamnya. Gaya tulis orang lain yang membuat saya kagum kadang melekat dalam tulisan saya. Sehingga ke-tidakpedean juga berhasil membayang-bayangi.

Sampai pada malam ini, saya temui bahwa memang seharusnya, dalam tahap-tahap awal, langkah meniru adalah salah satu modal yang bisa kita pakai untuk menjadikan tulisan kita bagus. Entah sampai kapan, yang jelasnya dengan terus-menerus seperti itu “jalan” yang akan kita cari akan kita dapati. Toh banyak penulis yang awalnya dari hal yang seperti ini. Mencoba mencerna dan menelaah tulisan orang lain namun kemudia mereka mendapati dirinya sendiri dalam menulis.

Mengikat makna yang ditawarkan oleh Herwono Hasyim tidak lebih adalah sebuah hal sepeleh yang kadang kita abaikan. Eh, Saya abaikan maksudku. Karena makna yang kita dapati itu tidak tentu waktu dan tempatnya. Setidaknya dengan mengikatnya dalam sebuah catatan kecil berupa sub judul tulisan yang akan kita tulis nantinya akan bisa membuat satu kalimat tadi berubah menjadi satu paragraf dan akan menjadi satu tulisan. Tidak ada salah apalagi dosanya.

Ini sama halnya dengan catatan kecil yang dulu kami sering lakukan ketika kuliah atau melakukan liputan untuk laporan buletin. Hanya satu kata yang terikat, namun dibalik semua itu ada banyak muncul bayangan yang mengikuti sehingga lahir kalimat demi kalimat. begitu kuatnya arti mengikat itu sendiri. Hanya sedikit saja, berupa simpul kecil, namun akan mampu menyambungkan dua helai benag yang terputus dan menjadikannya panjang.

Ada hal menarik yang juga kembali terungkap dalam benak saya, yang kemudian saya fikir ii mengurung imaji tangan saya selama ini untuk menulis, yaitu ungkapan yang mengatakan, “Banyak baca dulu kemudian menulis”. “Apa yang mau ditulis kalau tidak ada yang dibaca”. “Penulis yang tulisannya berbobot adalah penulis yang banyak bacaannya, membaca dulu baru menulis, tamatkan banyak buku dulu baru menulis”. Ini semua adalah ungkapan kamuflase yang akan menjadikan kita untuk tidak mau menulis, kesimpulan saya. Kenapa? karena kita akan selalu menganggap kita belum mempunyai banyak bacaan. Dan akan terhenti sampai di situ. Memang ada benarnya, tapi ternyata, membaca itu sendiri maknanya sangat luas dan kita bisa lakukan sepanjang nafas kita, ini saya namakan dengan membaca semesta. Bukan hanya sebatas dari pembacaan buku. Lalu, menuliskan setiap apa yang kita lihat tadi. Sebanyak apa yang kita tulis, bisa sebanding dengan sebanyak apa yang kita alami, jika kita mau.

Dengan mengikat makna, dari bacaan dan menuliskannya, banyak manfaat yang dapat kita peroleh. Kita bisa menjalani kehidupan yang banyak. Kita bisa merasa kehidupan yang tidak pernah kita jalani dengan nyata. Karena dengan penyampaian orang dan bisa merasakan pesan tulisannya, itu membuat kita seolah olah juga pernah menjalani kehidupan tersebut. dan jika kita bisa membaca, kita bisa menjalani berapa pun banyak dan jenis kehidupan seperti yang kita inginkan.

Mengikat makna, memang membutuhkan proses ekstra sabar. Harus juga istiqamah. Sependek dan sepanjang apapun bacaan yang kita baca, hari yang kita lalui, maka ikatlah ia. Tuliskan dalam sebuah catatan. Simpanlah jadi koleksi pribadi jika tidak ingin membaginya dalam blog. Bisa dipilah dipilih. Tekhnisnya bisa dengan membeli sebuah buku catatan kecil atau dengan menggunakan hape yang kita punya. Potongan ide, atau ikatan makna itu jangan sampai tidak tertuliskan dalam tiap harinya, biasakan sebelum tidur atau setelah bangun tidur untuk menulis. Serta khususkan satu folder untuk tulisan harian kita. Buatlah folder itu berdasarkan tahun. Kemudian didalamnya diurut berdasarkan bulan. Dan yang paling kecil adalah file word atau notepad yang berisi tulisan harian kita. Beri nama sesuai tanggal di bulan tersebut. Mengikat makna, Lets try it!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s