Cerita dari Mandar

Mandar itu bukan nama bapak saya, bukan juga nama marga keturunan. Dan tidak berhubungan sama sekali dengan Mandarin. Tapi Mandar adalah nama sebuah suku di provinsi yang bisa dikatakan baru, Sulawesi Barat. Mandar sendiri seperti dalam  banyak artikel yang kita temui terdapat beberapa pengertian, ada yang menganggap mandar berasal dari “sipamandar” yang berarti saling menguatkan. Ada juga menganggapnya bahasa Arab yang telah di ekploitasi. Berasal dari kata nadara-yanduru-nadran. Dan yang paling populer dalam makalah dari H. Mochtar Husein (1984) mandar dalam artian sungai menurut bahasa balanipa. Namun, apapun makna kebahasaan dan kesejarahannya, Mandar sekarang terkenal sebagai salah satu Suku. Suku yang dulunya termasuk 4 suku terbesar selain Bugis,Makasar, dan Toraja di Sulawesi Selatan.

Baru-baru ini, Lima puluh hari lamanya saya baru bisa mengatakan menikmati suasana puasa di kampung Mandar. Banyak pelajaran yang saya dapatkan. Hingga Saya bisa menyimpulkan betapa unik, kaya dan luar biasanya kita sebagai manusia dan bangsa Indonesia secara khusus. Di tengah ribuan suku Indonesia dan jutaan suku dunia pastilah masing-masing mempunyai nilai budaya dan petuah kehidupan. Termasuk orang Mandar sendiri.

Puasa di tanah Mandar mempertemukan saya kembali dengan orang yang saya cintai, Ibu Saya, Puang Hudu. Kali ini juga saya bisa berkeliling kampung Mandar walau itu cuman seputaran Campalagian, Labuang, Pambusuang, Tinambung, Majene dan Mamuju saja. Tidak sampai ke mamuju bagian bawah dan ke Mamasa. Sempat makan jepa dan ikan tuing-tuing. Bau peapi Mandar serta berbagai macam kue menu buka buasa lainnya. Tapi setidaknya mencipta seribu cerita tentang kampung mandar.

Ada hal yang tak bisa tergambarkan melihat kembali tanah Mandar. Suasana hati ketika kembali dari perantauan dan berkumpul dengan sanak famili adalah hal yang sangat berharga dan tak bisa terbeli dengan uang. Meski demikian, banyak cerita akan Tanah mandar yang mungkin sedikit bisa kami bagi untuk orang-orang Mandar yang ada di luar daeerah.

Kampung Mandar, kampung halaman saya yang berada di desa Kenje, Campalagian masih seperti yang dulu. Tidak memiliki perubahan
yang signifikan. Mulai dari Jalanannya masih jalanan yang hasil suadaya para pelaut tujuh tahun silam. Meski katanya setelah bulan puasa ini akah diperbaiki. Pembangunan tanggul bonde masing juga masih seperti dahulu. Nelayan masih menangkap ikan dengan cara
tradisional. Dan masih dengan banyaknya keluhan, kurang pendapatan dari melaut. Angka pengangguran juga masih tinggi dan hanya
tingkat jumlah kemiskinan (Standar penghasilan 9000/hari) saja yang meningkat. Yang katanya sekarang dipegang oleh kecamatan saya,  Campalagian.

Tentang kabupaten Polman sendiri saya masih menganggap tidak ada perubahan yang signifikan. Persis di Campalagian, Kecamatan saya
tinggal. Bangunan pasar dan perluasan jalan yang bisa saya nilai langsung masih itu-itu saja. Masih sempit tidak seperti Sulawesi Selatan. Hanya ramainya minta ampun. Jalanan sempit tadi dihiasi oleh puluhan spanduk para calon Bupati disana sini yang super raksasa. Padahal pemilihannya masih setahun lebih lagi. Sepanjang jalan raya yang dipenuhi spanduk calon bupati disana sini. Besarnya minta  ampun dan sungguh sungguh sangat mengganggu. Jarak sepersetengah kilometer pasti akan ada lagi spanduk orang-orang tersenyum, dengan berbagai janji, membawa Polman, Sulbar, Mandar ke arah ekonomi yang lebih baik atau iming-iming janji yang lain. Ah. Begitulah kira-kira.

Hanya di Mamuju saja -ketika kami berkunjung ke Ibukota Sulbar- yang sedang gencar pembangunan sana-sini. Perlebaran jalan dan sudah banyaknya orang-orang kantoran. Tidak seperti dahulu penduduknya masih jarang. Sudah muncul jamur usaha-usaha di kota mamuju. Mulai dari kuliner sampai pertokoan walau satupun Mall belum kita temukan. Di Mamuju juga sudah di penuhi para transmigran dari Jawa yang mencari kerja. Semoga saja, prioritas untuk penduduk asli tetap di pertimbangkan namun juga tentunya SDM harus bersaing dengan para transmigran.

Selama berada di Kampung Mandar, setidanya problem ekonomi dan pendidikan masih menjadi Pe Er besar yang mesti di selesaikan olah segenap instansi Sul-Bar itu sendiri. Minimnya usaha kecil menengah dan ketergantungan masyarakat akan lapangan kerja dari pemerintah membuat stagnan perkembangan ekonomi. Kami dapat menyimpulkan dari semakin banyaknya orang yang berusaha untuk mendapatkan ijazah demi untuk mendapatkan pekerjaan dalam sebuah instansi menjadi Pegawai Negeri Sipil. Sementara kultur dan budaya mandar sangat dekat dan berpotensi dengan kelautan kehutanan serta perkebunan. Tindakan reel dari tokoh masyarakat untuk menggiring pemahaman orang akan besarnya potensi alam Sul-bar adalah hal yang sangat dibutuhkan dari sekarang.

Dari sektor pendidikan juga sangat memprihatinkan. Jangan dibandingkan dengan Jawa dulu. Di bandingkan dengan Makasar saja literasi dan khasana buku yang berada di sulawesi barat sangat minim. Ini juga berdampak pada minat baca masyarakat yang harus lebih ditingkatkan. Dan menghidupkan kembali wadah diskusi diantara mahasiswa yang ada di Mandar Sulawesi Barat selalu kita dukung. Bagaimanapun, standar literasi sebuah daerah menunjukkan kemajuan daerah tersebut.

Tentunya ini tidak bisa kita atasi secara cepat secepat membalikkan telapak tangan. Tapi step by step kita lakuan dengan mengadakan pelatihan kepada kawula muda betapa pentingnya membaca dan menulis. Memberikan anggaran khusus demi membangun sarana budaya dan perpustakaan daerah yang tentunya dengan posisi strategis yang bisa di jangkau oleh kalangan banyak. Apa gunanya bangunan perpustakaan yang megah, buku yang banyak jika akses ke sana juga susah. dan yang lebih penting juga kampanye akan dunia Infomasi dunia maya yang baik dan benar. Walau sangat di sayangkan, sampai sekarang, daerah campalagian belum juga mendapatkan akses telekomunikasi, telpon. Masuknya jaringan telpon hanya janji belaka yang sudah sering saya dengar sejak saya ada di bangku SMP dulu.

Menghabiskan liburan di Mandar juga merupakan kesempatan besar bagi saya karena telah bertemu beberapa orang hebat dari madar. Sebelum ke Makasar, kami bertemu dengan DR. Muhammad Zen. Dirjen Pendidikan Depag Pusat saat beliau hadir di Acara halal bihalal di MAN Lampa 25 Agustus lalu. Beberapa pesan yang sempat kami tangkap dari beliu, bahwa orang Mandar itu adalah orang jujur, dan pemberani. Ketika dia diberi amanah maka ia akan menjalankan amanahnya dengan penuh karena orang mandar mempunyai prinsip “Masiria’ apa’ to Mandara” Saya malu karena saya orang Mandar.

Dan juga yang saya saluti adalah kanda Muhammad Ridwan Alimuddin yang eksis untuk tetap mempertahankan nilai budaya dan adat istiadat mandar dari sisi Baharinya. Apa yang beliau sampaikan dalam tulisan berupa buku atau websitenya mengajarkan saya kembali tentang beberapa sisi Mandar yang masih minim saya ketahui. Bahkan sumbangsihnya mampu membawa mandar go Internasional, memperkenalkan satu karya bahari Suku Mandar, Lopi Sandeq (perahu Sandeq) di Brest Francis Juli 2012 lalu. Dan juga buat tokoh intelektual muda Mandar, DR Muh. Idham Khalid Bodi, MA yang telah eksis bergerak dalam literasi, menerjemahkan al Quran dalam bahasa Mandar, Barzanji bahasa Mandar dan buku tentang Kalindaqdaq Mandar (Syair orang Mandar) , serta terakhir adalah karyanya tentang Kamus Besar Bahasa Mandar yang rencananya akan dicetak ulang yang ketiga kalinya oleh Pemerintah provinsi Sulawesi Selatan.

Aih, inggannamo dolo die luluare…
Mamuare’ malai tau menjari to malaqbi…

 

2 thoughts on “Cerita dari Mandar

  1. amiinnn……. tomalaqbiqna Mandar dee lulluare’ ??? hhhe ….. anna’ na mala toi ita’ dipecoai banuatta’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s