Innocent of Muslim

Saya dahulu tidak mau tahu apa itu cinta. Tidak pernah saya tertarik dalam hal mendefenisikan cinta itu seperti apa. Atau sekedar bertanaya apakah ada cinta dalam kehidupan saya. Hingga kemudian ketika beranjak dewasa, saya bisa mengerti sedikit. Tapi itu hanya dalam tataran pacaran seorang muda mudi. Yang mana sang lelaki ketika ingin mengawali hubungan dengan seorang wanita, mengungkapkan perasaannya dalam bentuk kalimat, saya mencintai-mu.

Semakin bertambahnya pengalaman dan dengan banyak faktor maka semakin banyak pantulan cinta yang saya bisa simpulkan. Meski, mungkin juga saya salah tentang cinta. Saya sendiri merasa mengerti tapi sulit mendefenisikannya. Bagi saya kata ini semakin rumit tetapi sangat gampang untuk dirasakan. Ketika, misalnya seorang ibu memarahi anaknya karena sebuah kesalahan itu adalah cinta, bagi saya. Anak yang membantu seorang kakek tua menyebrangi jalanan, itu adalah cinta, bagi saya. Seorang yang tidak saling kenal, kemudian dengan ikhlas membantu kenalan tersebut tanpa pamrih itu juga adalah cinta, bagi saya. Bahkan pertengkaran dan benci sendiri saya artikan cinta, dan lain sebagainya. Dan saya tidak pernah menyalahkan tentang defenisi orang tentang cinta itu sendiri. Saya anggap itu sendiri adalah cinta, bagi saya.

Orang hidup karena cinta. Bahkan orang rela untuk saling bunuh membunuh dengan alsan cinta. Betapa besar kekuatan cinta itu. Seorang yang kamu cintai dengan sepenuh hati akan menjadi sebuah penggerak kekuatan dalam dirimu untuk memberikan yang terbaik untuknya. Dan juga akan membentengi dia yang kamu cintai dengan sekuat tenaga ketika ada orang lain yang menghina dan merendahkan orang yang kamu cintai itu.

Yah, dan hal ini yang saya lihat dalam beberapa hari belakangan ini. Orang yang saya cintai dan umat Islam cintai semuanya, Nabi Muhammad saw telah dihina dan dimaki oleh oknum tidak bertanggung jawab lewat sebuah film yang berjudul Innocent of Muslim. Sebenarnya, celaan seperti ini adalah bukan yang pertama kalinya dan pasti juga bukan yang terakhir kalinya. Celaan dan ketiadak senangan terhadap baginda Nabi telah ada sejak beliau masih hidup. Dihadapannya sendiri, dihadapan sanak saudaranya beliau dicaci dan dimaki. Bukan hanya lewat perkataan saja, bahkan sampai kotoran manusia, disetiap subuhnya didapati di depan rumah rasul. Kotoran itu sengaja di letaakan sebagai pentuk cemoohan.

Bentuk perlawanan oleh sahabat sebagai tanda cinta beliau, beragam dan sampai kepada perlawanan yang sangat militan sangat keras rela mengobarkan perang untuk membunuh. Pedang terhunus tajam dan murka para sahabat mungkin lebih dahsyat saat itu. Tak urung para sahabat, andai bukan baginda Nabi yang mencegah sudah memporak-porandakan badan dan membrangus seisi rumah pencemooh tadi. Tapi beliau melarang bahkan mendoakan sang pencela tadi. “ya Allah ampunilah kaumku karena sesungguhnya dia tidak mengetahui” doanya. Demikian apa yang ada dibeberapa riwayat tentang sejarah hidup beliau.

Film innocent of muslim kini beredar dan membuat reaksi umat muhammad di abad ini meronta hingga membakar dan membunuh. Dubes Amerika Serikat di Suriah meninggal dan dua orang stap kedutaan turut ikut menjadi korban. Di Mesir, Iran, Libya, India, Afganistan, dan negara yang mayoritas muslim melakukan aksi demonstrasi di kedutaan Amerika, menuntut pembuat film di hukum seberat-beratnya bahkan sampai hukuman mati. Bahkan kemarin, Indonesia sudah terlihat aksi demonstrasi itu. Semuanya rata dan kembali kepada satu alasan yaitu alasan cinta. Alasan cinta yang menyebabkan ketidak terimaan para umat muslim atas penghinaan yang merendahkan orang yang sangat agung dalam agama Islam. Kecintaan mereka terhadap baginda Nabi membuat segala hal menjadi halal dan boleh untuk dilakukan. Pengrusakan, pelemparan, bahkan pembunuhan. Saya jadi bertanya, benarkah seperti itu pemaknaan cinta?

Saya teringat acara tv one yang menghadirkan wakil mentri agama Bapak Nazaruddin Umar beberapa hari lalu dalam hal menaggapi film ini, sehari sebelum demo terjadi di Indonesia. Belia menghimbau untuk tidak terprovokasi dalam hal ini, ikut serta berbuat anarki di kedutaan Amerika di Indonesia. Pak Nazar beranggapan jangan sampai hal ini adalah sebuah hal yang memang di inginkan oleh orang-orang tertentu. Agar umat islam terpancing melakukan demonstrasi dengan segala kekerasan yang ada di dalamnya. Ibaratnya, mereka menabuh gendang dan kita, umat islam berjoget ria dengan nada tersebut hingga lupa apa yang paling urgen kita harus lakukan sebagai umat. Membangun peradaban.

Ini juga mengingatkan saya dengan ibarat kata yang menggambarkan praktek beragama umat itu seperti anak yang sekolah dari SD sampai Mahasiswa perkuliahan. Yang palin rendah sekolahnya akan rentan pengamalannya tentang toleransi dan cepat memutuskan dengan tindakan kekerasan. Seperti anak SD yang sering bertengkar. Sedangkan yang tinggi, akan melihat dalam skala lebih besar, hingga ia mampu berbuat dengan pijakan bijak. Tidak terpropokasi hingga tetap dalam skala apa yang harus dan mesti diprioritaskan. Dalam hal ini, adalah mahasiswa yang benar ber-mahasiswa tentunya.

Pada akhirnya, cinta itu sendiri perlu dari berbagai maknyanya mungkin perlu mengetahui penempatannya dengan pemaknaan yang tepat. Dan tentunya menyalahkan saudara kita, yang berbuat anarki juga merupakan bukan hal yang bijak dalam hal ini. Itu wujud cinta mereka, yang barangkali lebih peka dan dalam ketimbang cinta kita sendiri kepada baginda Nabi. Mereka menunjukkannya lewat sikap nyata, dengan harapan tidak akan adalagi hal serupa terulang untuk kedua kalinya. Demi cinta dan cinta. Tidak ada hal lain.

Film dan Aksi sesudahnya ini juga membuat saya, merenung. Seberapa besar kecintaan saya pada Rasulullah?
Tidak usahlah saya berbicara tentang hinaan terhadap baginda Nabi, cukuplah mengira-ngiraira seandainya orang yang saya cintai, Ibu saya misalnya mendapat penghinaan oleh orang lain? Apa yang akan saya lakukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s