Apa Setelah Ramadhan?

Puasa merupakan sebuah implementasi iman seseorang dan juga merupakan sebuah pendidikan sosial bermasyarakat yang sangat dalam maknanya. Orang yang benar-benar mengerti hakikat dan hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa, akan senantiasa meningkat imannya dan juga akan senantiasa makin baik dalam berinteraksi dengan sosialnya.

Puasa dalam term sejarah dan pensyariatannya mengandung banyak dimensi pendidikan dan juga beragam pelajaran sosial yang bisa kita dapati. Beberapa diantaranya adalah makna dari shaum itu sendiri. Dalam sejarah, ternyata didapati bahwa bukan hanya kita sebagai umat Nabi Muhammad yang diberikan kewajiban untuk menjalankan ibadah shaum itu sendiri, namun umat sebelumnya juga diberikan perintah untuk berpuasa. Umat Musa, misalnya, diperintahkan oleh Allah swt untuk menjalankan ibadah puasa selama 40 hari lamanya secara berturut-turut tanpa makan dan minum.

Begitu juga, ketika kita menilik makna puasa secara kandungan bahasa, menahan. Akan kita temukan banyak praktek yang beragam dalam ibadah puasa, seperti apa yang dikatakan Allah swt atas apa yang dilakukan Maryam untuk berpuasa, menahan diri untuk tidak berbicara atas apa yang terjadi kepadanya. Inni nadzhartu lirrahmani shauman falan ukallimul yauma Insian. Sesungguhnya saya bernadzar terhadap Tuhanku untuk berpuasa, dan tidak berbicara hari ini kepada seorangpun. Bahkan jauh sebelumnya nenek moyang kita Adam dan Hawa diperintahkan untuk berpuasa dalam artian menahan diri dari memakan buah Khuldi yang ada di salam syurga.

Puasa Sebagai Implementasi Iman

Sebagai orang islam, merupakan sebuah kesalahfahaman yang fatal jika keimanan itu hanyalah sebatas apa yang kita yakini dan terpatri di dalam hati saja. Kalau kita melihat pengertian iman yang sesungguhnya tidak akan kita dapatkan terhenti dalam tataran demikan saja, akan tetapi iman itu selain harus terpatri di dalam hati juga harus berbarengan dengan implementasi dalam kehidupan sehari-hari.

Puasa, kita kenal sebagai ibadah spesial. Sebagaimana apa yang kita dapati dari hadits rasulullah saw bahwa Kullu amali bni adama lahum illa shiam, Fainna shaumu liy wa ana ajzun bih. kespesialan dari Ibada puasa ini bisa kita lihat dari penilaian yang langsung diberikan Allah swt kepada orang yang berpuasa. Disini secara tersirat kita diajarkan akan sebuah hakekat iman yang sangat tinggi, atau seperti yang kita istilahkan tadi, “impelementasi iman” percaya bahwa Allah swt senantiasa mengawasi dan melihat tiap langkah gerak gerik kita.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang beribadah shalat, zakat atau beribadah haji misalnya, kita dengan terang benerang dengan mata telanjang dapat menyaksikan orang tersebut. kita mampu memberikan penilaian atas orang tersebut dari pelaksanaan ibadahnya. Namun berbeda dengan ibadah puasa, penilaian kita terhadap orang tersebut buram dan kabur, kita tidak dapat melihat secara jelas antara yang puasa dan yang tidak puasa. Semuanya akan nampak sama dimata manusia, yang membedakan hanyalah tingkat keimanan kita. Puasa mengajarkan kepercayaan tertinggi, hanya antara kita, personality dengan Allah swt.

Orang yang betul-betul mampu mengimplementasikan nilai keimanan dalam ibadah puasa akan mendapat ganjaran puasa. Tidak seperti orang berpuasa yang digambarkan oleh sabda nabi Muhammad saw. Kammin shaimin laisa lahu min shiamin illal ju’i wal athas. Berapa banyak orang yang berpuasa akan tetapi tidak ada yang mereka dapatkan dari praktek puasanya kecuali lapar dan haus. Orang yang mengetahui hakekat puasa mampu membawa perubahan yang besar dalam dirinya dan tentunya dalam bermasyarakat.

Puasa dan Sosial

Agama adalah sosial. Ungkapan para penganut aliran sosialism ini, meski tidak sepenuhnya benar namun juga tidak sepenuhnya salah. Dalam mempelajari agama Islam, selain aspek ibadah, ada aspek sosial yang sangat ditekankan untuk dijalankan oleh umat Islam. Bahkan, pesan tersirat dari setiap pelaksanaan ibadah dalam agama Islam, jika kita cermat dalam menganalisa hikmahnya maka kita akan dapati dimensi sosial terkandung didalamnya.

Apa yang kita lakukan sehari-hari seperti shalat misalnya, terdapat dimensi sosial di dalamnya. Shalat yang jika dilihat secara sepintas hanya berupa gerakan layaknya gerakan olahraga, tapi dari kedalaman hikmahnya, dalam shalat kita diajarkan akan kesadaran toleransi, bersikap adil dantepat waktu. Diseluruh dunia, pelaksanaan shalat tidak pernah kita diajarkan untuk membedakan antara sholatnya orang kaya dan orang miskin beda. Kita juga diajarkan keadilan. Dalam bejamaah kita diajarkan untuk seimbang dalam shaf dan rakaat dalam shalat juga beragam adanaya, serta ketika kita bepergian kita diberikan keringanan untuk menjamak dan qhasar sholat kita sebagai wujud impementasi adil, menempatkan sesuatu pada tempatnya. Semuanya adalah pelajaran bersosial. Dan tentunya juga adalah tepat waktu, sebagaimana tidak ada orang yang sukses dalam usaha interaksi sosialnya kecuali orang-orang yang tepat waktu.

Demikian juga halnya dengan puasa. Setelah kita mampu mengimplementasikan iman kita, meyakini bahwa kita selalu diawasi dalam pelaksanaan puasa, kita takut untuk makan secara diam-diam, kita takut minum secara sembunyi-sembunyi, selanjutnya implementasi itu kita keluarkan dalam tataran bersosial. Kita akan dapatkan sebuah perubahan raksasa yang akan merubah hidup kita. Kita akan mampu bersosial dengan praktek yang luar biasa hebatnya. Kita akan merasa selalu diawasi dalam gerak gerik kita. Kita juga mampu menahan diri untuk tidak melakukan hal yang dilarang agama padahal saat itu ada kesempatan besar untuk melaksanakannya.

Puasa, dan nilai sosial juga mampu meningkatkan perasaan empati, simpati kita terhadap persoalan kemanusiaan yang kini menjadi problem dunia. Kemiskinan dan kelaparan yang melanda saudara-saudara kita seakan menjadi hal biasa disekitar kita, tapi dengan merasakan lapar haus dengan puasa, kita dipanggil untuk berfikir dan bergerak, betapa berat penderitaan yang harus ditanggungnya. Dari sana kita akan tau pentingnya makna berbagi. Dan dari puasa kita mampu tergerak untuk ikut membantu. Setidaknya itulah sebahagian kecil aspek sosial yang tentunya, semakin kita meresapi maknanya, semakin kita mendapatkan banyak hikmah dari implementasi iman dan makna sosial dari ibadah kita, ibadah puasa secara khusus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s