Ilmu Fardhu Ain Imam Al Gazali

Dalam kesempatan ini kami mencoba meberikan pejelasan singkat tentang ilmu yang terpuji dan tercela menurut imam al Gazali, pembahagiannya serta hukum yang tercakup pada pembahasan ini. Secara global, hukum penuntutan ilmu menurut Hujjatul islam imam al Gazali itu bisa terbagi dua menajdi fardhu ain dan fardhu kifaya.

Apa yang dimaksud ilmu yang fardhu ain?

Imam Al Gazali menjelaskan, sesuai hadits Rasulullah saw. “Menuntut Ilmu adalah fardhu bagi setiap muslim” menunjukkan penuntutan ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Namun kini muncul pertanyaan, apakah semua cabang ilmu itu wajib untuk dipelajari? Ataukah hanya ilmu tertentu saja? Yang fardhu ain dalam hadits ini sebenarnya yang mana? Al Gazali menjelaskan dalam ihya Ulumuddin dalam memaknai hadits ini manusia banyak berbeda pendapat. Menurut al Gazali ilmu yang fardhu ain (setiap orang wajib mempelajarinya) terdapa sampai lebih duapuluh lebih pendapat. Berbeda menurut bidangnya masing masing.

Para ahli kalam mengatakan bahwa yang fardhu ain itu adalah ilmu kalam. Karena dengan ilmu ini kita bisa memahami makna tauhid. Mengetahui dzat dan sifat-sifat Allah SWT. Ahli fiqh mengatakan bahwa yang fardhu ain itu adalah ilmu fiqh. Karena dengan ilmu fiqh ini ibadah, halal, haram, apa yang diharamkan dan dihalalkan dari interaksi sosial itu bisa diketahui. Ahli tafsir dan ahli hadits bahwa yang wajib ain itu adalah ilmu tentang al quran dan hadits. Karena dengan ilmu ini kita bisa sampai ke ilmu secara keseluruhan.
Ahli tasawwuf mengatakan bahwa ini adalah ilmu mukasyafah atau ilmu tasawwuf itu sendiri namun alhi tasawwuf dendiri berbeda beda lagi memaknai maksud dengan ilmu yang fardhu ain ini. Sebahagian mengatakan itu adalah ilmu untuk mengetahui hal dan maqam seorang hamba disisi Allah. Sebahagian berkata adalah ilmu ikhlas. Pendalaman jiwa, membadakan atara millah syaitan dan millah malaikat. Dan sebahagian mengatakan ilmu batin dan wajibnya ini khusus untuk kaum-kaum tertentu.

Abu Thalib Al Makky mengatakan yang dimaksud dengan fardhu ain itu adalah mengetahui lima pondasi islam yang tertera dalam hadits nabi.

“Islam dibangun atas lima hal: Syahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasulullah. Mendirikan shalat. Menunaikan zakat. Puasa ramadhan dan haji bagi orang yang mampu”. (HR Bukhari Muslim)

Lebih lanjut dijelaskan, meski yang diwajibkan itu hanya seputar yang lima tadi namun menjadi wajib pula ilmu tentang bagaima sampai untuk penerapan hal yang lima ini. Al Gazali menyambungkan pembahasan ilmu fardu ain ini dengan menjelaskan pembahagian ilmu dari segi interaksi kepada Allah dan kepada manusia. Dalam Ihya beliau menulis “Ilmu sebagaimana yang telah kami kemukakakan sebelumnya itu terbagi kepada ilmu mu’amalah dan ilmu mukasyafahah. Dan tidaklah yang wajib dipelajari seorang muslim itu kecuali imu muamalah saja. Sedangkan pembahagian ilmu muamalah yang dibebankan kepada seorang muslim yang akil balik itu ada tiga: I’tiqad, melaksankan perintah dan menjauhi larangan.

Tatkala seorang telah mencapai baliq baik itu dari usia atau ditandai dengan bermimpi, maka diwajibkan kepadanya untuk mempelajari dua kalimat syahahdat serta memahami maknanya. Yaitu perkataan “asyhadu an laa ilaha illallah wa asyahdu anna muhammadan rasulullah” saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Tidak wajib baginya untuk megetahui penjelasan penjelasannya lebih rinci. Melainkan cukup meyakininya tanpa kebimbangan dan keraguan. Walau melalui taklid dan sima’. Sebagaimana yang dilakukan oleh rasulullah terhadap sahabat yang masuk Islam tanpa mengajarkan dalil. Ketika itu sudah terlaksana maka gugurlah kewajiban pada masa tersebut dan tidak ada lagi tuntutan setelahnya buktinya, ketiak seseorang meninggal dunia setelah membaca dua kalimat syahdat tadi maka matinya dianggap mati orang yang taat dan tidak bermaksiat kepada Allah SWT.

Setelah i’tiqad tersebut maka akan adalagi kewajiban melaksakan perinta dan menjauhi larangan. Tidak dharuri tapi dituntut dalam bentuk uraian saja. Seperti shalat. Untuk mengetahui perintah tersebut maka ia mempelajarinya sebelum tiba masa kewajibannya. Demikian pula puasa. Zakat. Haji. Tidak harus tergesa gesa mempelajarinya. dan wajib juga untuk mengetahui apa yang harus di jauhi atau ditinggalkan berupa perbuatan-perbuatan kemaksiatan atas berlalunya waktu berdasarkan kebutuhan. Apabila terlintas dipikirannya keraguan dalam akidahnya, maka ia harus belajar dan megkaji sebatas menghilangkan keraguan itu, dan mempelajari ilmu yang dapat menyelamatkan diri dari kebinasaan dan memperoleh derajat yang tinggi dalam fardhu ain. Sementara ilmu-ilmu yang lebih dari itu adalah fardhu kifayah, bukan fardhu ain.

Ketahuilah bahwa tingkatan-tingkatan ilmu adalah berdasarkan kadar kedekatannya dengan ilmu akhirat. Sebagaimana ilmu syariat lebih utama dari pada ilmu-ilmu lainnya. Maka ilmu yang berkaitan dengang hakikat-hakikat syariat lebih utama daripada ilmu yang berkaitan dengan hukum hukum lahiriah. Maka ahli fiqih menghukumi bentuk lahir dengan sah dan batil. Di balik itu ada ilmu untuk mengetahui bentuk ibadah yang diterima atau di tolak. Hal itu termasuk ilmu-ilmu sufistik.

3 thoughts on “Ilmu Fardhu Ain Imam Al Gazali

  1. Mengenal diri fardhu ain wajib kenal dirinya maka kenal ia akan Tuhannya, kenal ia akan Tuhannya maka binasalah dirinya. Wajib tuntut ilmu setelah akhil balikh

  2. Wajib diri fardhu ain wajib kenal dirinya maka kenal ia akan Tuhannya, kenal ia akan Tuhannya maka binasalah dirinya. Wajib tuntut ilmu setelah akhil balikh

  3. Ilmu Adalah Kawan Setia

    Ilmu selepas iman adalah perkara pertama dan utama

    dan amat berguna di dalam kehidupan

    Dia adalah merupakan kawan setia di mana sahaja kita berada

    Di waktu keseorangan penghibur kita

    Di masa ramai penyeri majlis penghibur orang ramai

    Dia sentiasa menjadi kawan penunjuk jalan di waktu kebuntuan

    Sama ada jalan ke Akhirat mahupun jalan ke dunia fana ini

    Kawan yang kita bawa ke mana-mana

    Ia tanpa janji untuk menemani kita

    Dia sudah sedia ada bersama kita di mana sahaja

    Dia tidak payah ditemujanji dan diajak-ajak bersama kita

    Kadang-kadang dia jadi penasihat kita ketika kebuntuan

    Di waktu keseorangan bersama ilmu tidak terasa keseorangan

    Seolah-olah kawan setia

    sudah sedia ada bersama kita menjadi penghibur

    Kita bertanyalah kepadanya,

    kita terimalah nasihatnya, kita gunakan dia

    Dia berada bersama dengan kita

    tidak menyusahkan kita buat selama-lamanya

    Ilmu itulah penghubung kita dengan orang

    Sama ada kita kenal atau tidak

    Kawan setia kita inilah yang menjadikan orang lain senang dengan kita

    Dia penyerinya

    Ilmu yang menjadi kawan kita

    Itulah menjadikan kita di tengah ramai tidak terasing dan tidak canggung

    Kawan setia kita itulah pula kita mendapat kawan ramai

    Di mana kita pergi orang menerima dan memuliakan kita

    Sungguh untuk berkawan dengan ilmu

    Ke mana kita pergi tidak canggung

    Dialah pembantu utama kita di dalam kehidupan

    Di waktu kita bermukim

    Mahupun di masa berjalan

    Carilah ilmu selepas iman

    Dia adalah penyelamat kita di dalam kehidupan

    12.11.2002 – 3

    Selepas Tarawikh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s